Kamis, 14 Januari 2021

RAJA JEMBRANA VII

 

        RAJA JEMBRANA VII
IDE ANAKE AGUNG BAGUS NEGARA (1929)

 

      
                                         IDE ANAKE AGUNG BAGUS NEGARA POSISI NOMOR 2 DARI KANAN

a.             I Gusti Agung Bagus Djelun, putera kedua I Gusti Agung Njoman Kotanegara yang menggantikan kakeknya, Radja Djembrana VI Ide I Gusti Agung Made Rai, menjadi Radja Djembrana VII abhiseka Ide Anake Agung Bagus Negara pada tahun 1929 yang bertakhta hingga tahun 1960.

b.             Radja Djembrana VII memerintah berkelanjutan sejak era penjajahan kolonial Belanda, okupansi Bala Tentara Dai Nippon yang justeru diberikan gelar SHUTJO dan zaman Republik Indonesia.

c.             Swadharmaning bhakti Radja Djembrana VII berakhir konstitusional dalam tahun 1960 karena perubahan tata pemerintahan sistem Monarchi menjadi Kabupaten sebagai implementasi Undang Undang Nomor 69 Tahun 1958 tanggal 14 Augustus 1958 tentang pemekaran Provinsi Sunda Kejil/Nusa Tenggara menjadi Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, melalui prosesi penyerahan wilayah binaan dan tongkat komando pemerintahan kepada Bupati Djembrana Ida Bagus Gede Dosther.

d.             Awal kiprah karir kekaryaan sebagai Pegawai Kejaksaan Negara, Pegawai Kehakiman Lombok dan Manteri Polisi Negara.

e.             Pemerintah Belanda mengakui legitimasi hak penuh RADJA ASTA NEGARA di BALI (Keradjaan Buleleng, Djembrana, Tabanan, Badung, Gianjar, Bangli, Klungkung dan Karangasem) dengan Korteverklaring yang diserahkan dalam ritual penobatan bersama di Pura Besakih Karangasem tanggal 30 Juni 1938 dan memberlakukan sebutan atau gelar RADJA sebagai berikut :

 

1.          Radja Buleleng bergelar Ide Anake Agung.

2.          Radja Djembrana bergelar Ide Anake Agung.

3.          Radja Tabanan bergelar Ide Tjokorde.

4.          Radja Badung bergelar Ide Tjokorde.

5.          Radja Gianjar bergelar Ide Anake Agung.

6.          Radja Klungkung bergelar Ide I Dewa Agung.

7.          Radja Bangli bergelar Ide Anake Agung.

8.          Radja Karangasem bergelar Ide Anake Agung Agung.

 

f.               Beliau dilahirkan tanggal 09 Juni 1900 di Negara dan mangkat tanggal 29 Juli 1967 di Puri Agung Negara Djembrana yang rusak dampak penjarahan ekses politisasi Tragedi G30S/PKI Tahun 1965 pada tanggal 02 dan 04 Desember 1965 dan disebut Bethara ring Saren Rusak Puri Agung Negara Djembrana .

g.             Prosesi plebon Almarhum Radja Djembrana VII tanggal 09 Augustus 1967 di Negara sederhana dan TANPA kesaksian menantu dan cucu karena kendala larangan hadir tanpa kejelasan argumentasi oleh Penguasa. Ritual pelebon diselenggarakan oleh Pasemetonan Ageng Puri Agung Negara Djembrana dan masyarakat yang menghormati Almarhum Radja Djembrana VII serta eksistensi Puri Agung Negara Djembrana. Pimpinan upacara pelebon adalah Anak Agung Putu Mahayoen dan yadnya dipuput oleh Bagawante Puri Agung Negara Djembrana Ide Peranda Gede Sunu dari Grya Megati Djembrana.

Beliau berputera tunggal, Anak Agung Bagus Sutedja, yang menjadi Kepala Daerah Bali Provinsi Sunda Ketjil/Nusa Tenggara (tahun 1950–1958) dan Gubernur Provinsi Bali pertama sejak dilantik tanggal 05 Desember 1959 berdasar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 412/M Tahun 1959 tanggal 28 November 1959 namun “hilang dalam tugas” (missing on duty) sebagai korban sistemik konspirasi penculikan politik tanggal 29 Juli 1966 di Jakarta.

RAJA JEMBRANA IV

 

     RAJA JEMBRANA IV
IDE I GUSTI AGUNG GDE SELOKA (1818)

 

                                                                         Gedung Paviliun di Puri Agung Negara

a.             Radja Djembrana III digantikan oleh I Gusti Agung Gde Seloka sebagai Radja Djembrana IV abhiseka Ide I Gusti Agung Gde Seloka dalam tahun 1818 dan mangkat di Saren Agung Puri Agung Negara Djembrana di Negara sehingga disebut Bethara ring Saren Agung Negara dalam tahun 1839.

b.             Radja Djembrana IV Ide I Gusti Agung Seloka diungsikan Tentara Pengawal Keradjaan ke Jawa pada tahun 1824 saat awal serangan Keradjaan Buleleng dan kembali memerintah sejak tahun 1830, mendirikan kota dan Puri Agung Negara sekaligus memindahkan pusat pemerintahan dari Djembrana.

c.             Beliau berputera 2 (dua) orang, yaitu I Gusti Agung Putu Ngurah dan I Gusti Agung Putu Raka.

 

Era pemerintahan Radja Djembrana IV mencatat peristiwa penting berikut :

 

1.             Radja Djembrana IV diungsikan ke Desa Pangpong Muntjar Banjuwangi Jawa Timur wilayah taklukan Keradjaan Kedawung yang diperintah Bupati Raden Temenggung Wiroguno I bawahan Keradjaan Sumenep Madura saat invasi Radja Buleleng Ide I Gusti Agung Gde Karang pada tahun 1824. Radja Djembrana IV dan pengiring diterima bersahabat oleh Bupati Raden Temenggung Wiroguno I dan lokasi pengungsian Desa Pangpong Muntjar Banjuwangi Jawa Timur dinamakan Kampung Bali. Radja Djembrana IV memerintahkan adik kandungnya, Radja Muda I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol, kembali ke Djembrana untuk memantapkan roda pemerintahan dan kendali keamanan di Keradjaan Djembrana.

2.             Radja Buleleng Ide I Gusti Agung Gde Karang tiba dan menginap di Loloan Djembrana pada tahun 1828 untuk mengkaji pemerintahannya yang tidak disenangi rakyat. Radja Buleleng memerintah dengan tangan besi sehingga terjadi pertempuran di Desa Pengambengan yang berujung Radja Buleleng tewas ditangan I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol.

3.             Tentara Keradjaan Buleleng pimpinan Radja Muda I Gusti Agung Njoman Karang menyerang Keradjaan Djembrana dan terjadi palagan di Desa Badjo Awen yang berujung gugurnya I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol bersama Punggawa Gede I Gusti Ngurah Gede, serta terjadi tindak brutal anarhistis dan genodisis terhadap keluarga pria Jero Pantjoran dan Jero Bengkel.

4.             Situasi kian kisruh karena Keradjaan Buleleng tidak mampu mengendalikan Keradjaan Djembrana. Rakyat mengangkat I Gusti Ngurah Putu Dorok selaku Punggawa Gede sambil menantikan Radja Djembrana IV dari pengungsian.

5.             Keradjaan Buleleng menandatangani pakta perdamaian dengan Keradjaan Djembrana. Radja Djembrana IV kembali memerintah Keradjaan Djembrana sejak tahun 1830 hingga mangkat pada tahun 1839.

6.             Radja Djembrana IV menetapkan adiknya, I Gusti Agung Njoman Madangan, sebagai Radja Muda Djembrana pada tahun 1828 menggantikan kedudukan Almarhum I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol.

7.             Radja Djembrana IV membangun Istana Puri Agung Nagari di Negara (kelak dikenal sebagai Puri Agung Negara Djembrana), menyatakan kota Negara menjadi Ibukota, pusat pemerintahan, ekonomi, perniagaan, sosial budaya, pertahanan keamanan Keradjaan Djembrana sejak tahun 1830 yang semula berpusatkan di Puri Gede Djembrana.

8.             Radja Djembrana IV membangun Pura-Pura sebagai wujud pengejawantahan dharmaning adat dan agama demi keseimbangan kehidupan niskala–sekala melaksanakan sradha Agama Hindu di seputaran kota Negara yaitu :

 

a.          Pura Dalem di Desa Lelateng Negara pada tahun 1831.

b.         Pura Segara di Desa Pengambengan Negara pada tahun 1834.

c.          Pura Desa/Pura Puseh di Desa Banjar Tengah Negara pada tahun 1837.

 

9.             Kerusakan Taman Sari dampak pendudukan duo aliansi Keradjaan Tabanan dan Badung selama tahun 1809–1811 diperbaiki bertahap.

Keradjaan Jembrana era tahun 1705–1960 oleh A.A.Gde Agung B. Sutedja (Penglingsir Puri Agung Negara Djembrana )

 Sejarah Kerajaan Jembrana era tahun 1705–1960
oleh A.A.Gde Agung B. Sutedja
(Penglingsir Puri Agung Negara Djembrana )

Cuplikan peristiwa penting peran Radja atas eksistensi pemerintahan dan teritorial Keradjaan Djembrana era tahun 1705–1960, kiprah Anak Agung Bagus Sutedja selaku pucuk pimpinan Bali selama tahun 1950–1966 dan peran Pengelingsir Djembrana Anak Agung Gde Agung sejak tahun 2002 terdeteksi sesuai catatan


fakta berikut :

 

1.             RADJA DJEMBRANA I – IDE I GUSTI AGUNG NGURAH DJEMBRANA (1705)

 

a.             I Gusti Ngurah Alit Takmung adalah putera Radja/Tjokorde Mengwi III Ide I Gusti Agung Njoman Alangkadjeng gelar Ide Tjokorde Njoman Munggu yang memerintah Keradjaan Mengwi sejak tahun 1682.

b.             I Gusti Ngurah Alit Takmung mendirikan Keradjaan Djembrana dan menjadi Radja Djembrana I gelar Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana dalam tahun 1705 serta memerintah hingga tahun 1755.

c.             Radja Djembrana I berputera kembar, I Gusti Agung Gde Agung dan I Gusti Agung Made Ngurah, yang keduanya mangkat muda usia.

d.             I Gusti Agung Gde Agung menjabat Radja Muda Djembrana pada tahun 1722 dan mangkat tahun 1724 di Saren Taman sehingga disebut Radja Dewata Lebar ring Taman. Puteranya bernama I Gusti Agung Gde Djembrana kelak menjadi Radja Djembrana II pada tahun 1755.

e.             I Gusti Agung Made Ngurah diangkat menjadi Wakil Radja Muda Djembrana tahun 1724 dan tikam diri satya wacana diatas batu tempat duduk hariannya disebut Radja Dewata Lebar Kesuduk ring Watu. Puteranya, I Gusti Agung Ngurah Putu Pasatan, mendapat nakti di Pura Pasatan dalam tahun 1745 dan menurunkan para Gusti Ngurah Jero Rai, Anyar, Anom, Oka Dangin Tukad, dan Taman, serta I Gede Putera seketurunan menetap di Pendem.

 

Kejadian penting era pemerintahan Radja Djembrana I  tercatat sebagai berikut :

 

1.             I Gusti Gede Andoel adalah putera I Gusti Ngurah Jasa keturunan Ngurah Anglurah Berangbang warih I Gusti Basangtamiang menetap di Jero Andul Desa Batuagung Djembrana memohon izin Radja/Tjokorde Mengwi III agar putera Beliau dialihkan ke Djembrana untuk mendirikan Keradjaan Djembrana dan menjadi Radja Djembrana.

2.             Permohonan dikabulkan dan menetapkan putera Beliau dengan I Gusti Luh Takmung, puterinya I Gusti Poh Gading keturunan Anglurah Kaler Patjekan di Takmung Klungkung, bernama I Gusti Ngurah Alit Takmung, ke Djembrana, dengan dibekali sebilah Keris Padjenengan Sakti Tatasan, disertai I Gusti Kaler Takmung (paman dari pihak Ibu), diiringi ratusan pengiring, diantaranya bangsawan I Gusti Ngurah Kalia, wangsa Pasek, pasukan khusus dengan tugas tanggungjawab masing-masing, yaitu Purnadesa, Gegem, Ambengan, Tulup, Madangan, Tawasan, Tangkas, Panasan, dan Bendesa, namun tanpa kesertaan semeton Brahmana.

3.             I Gusti Ngurah Alit Takmung mendirikan Keradjaan Djembrana serta menjadi Radja Djembrana I gelar Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana pada tahun 1705, membangun Puri Gede Djembrana sebagai istana dan pusat kendali pemerintahan, politik, ekonomi, sosial adat budaya, pertahanan keamanan dan ikutan, di Desa Dauhwaru Djembrana.

4.             Radja Djembrana I Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana mangkat tahun 1755 dan disebut Bethara ring Saren Agung Djembrana dan digantikan cucu Beliau yang bernama I Gusti Agung Gde Djembrana

5.             Tahun 1710 mendirikan Pura Tjandi Rawi di Banjar Anyar Djembrana untuk pusat upacara adat keagamaan. Komposisi bangunan Pelinggih Pura Tjandi Rawi terdiri dari Meru Tumpang Tiga untuk Bethara Siwa dan Gedong untuk Pelinggih Bethara Ibu. Fungsi Pura Tjandi Rawi sebagai Syiwa dengan prosesi ritual upacara adat keagamaan Panca Yadnya (Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya) dipimpin langsung oleh Radja Djembrana karena saat itu belum ada Bagawante. Pujawali Pura Tjandi Rawi pada Umanis Anggarkasih Wuku Julungwangi.