Kamis, 14 Januari 2021

RAJA JEMBRANA IV

 

     RAJA JEMBRANA IV
IDE I GUSTI AGUNG GDE SELOKA (1818)

 

                                                                         Gedung Paviliun di Puri Agung Negara

a.             Radja Djembrana III digantikan oleh I Gusti Agung Gde Seloka sebagai Radja Djembrana IV abhiseka Ide I Gusti Agung Gde Seloka dalam tahun 1818 dan mangkat di Saren Agung Puri Agung Negara Djembrana di Negara sehingga disebut Bethara ring Saren Agung Negara dalam tahun 1839.

b.             Radja Djembrana IV Ide I Gusti Agung Seloka diungsikan Tentara Pengawal Keradjaan ke Jawa pada tahun 1824 saat awal serangan Keradjaan Buleleng dan kembali memerintah sejak tahun 1830, mendirikan kota dan Puri Agung Negara sekaligus memindahkan pusat pemerintahan dari Djembrana.

c.             Beliau berputera 2 (dua) orang, yaitu I Gusti Agung Putu Ngurah dan I Gusti Agung Putu Raka.

 

Era pemerintahan Radja Djembrana IV mencatat peristiwa penting berikut :

 

1.             Radja Djembrana IV diungsikan ke Desa Pangpong Muntjar Banjuwangi Jawa Timur wilayah taklukan Keradjaan Kedawung yang diperintah Bupati Raden Temenggung Wiroguno I bawahan Keradjaan Sumenep Madura saat invasi Radja Buleleng Ide I Gusti Agung Gde Karang pada tahun 1824. Radja Djembrana IV dan pengiring diterima bersahabat oleh Bupati Raden Temenggung Wiroguno I dan lokasi pengungsian Desa Pangpong Muntjar Banjuwangi Jawa Timur dinamakan Kampung Bali. Radja Djembrana IV memerintahkan adik kandungnya, Radja Muda I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol, kembali ke Djembrana untuk memantapkan roda pemerintahan dan kendali keamanan di Keradjaan Djembrana.

2.             Radja Buleleng Ide I Gusti Agung Gde Karang tiba dan menginap di Loloan Djembrana pada tahun 1828 untuk mengkaji pemerintahannya yang tidak disenangi rakyat. Radja Buleleng memerintah dengan tangan besi sehingga terjadi pertempuran di Desa Pengambengan yang berujung Radja Buleleng tewas ditangan I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol.

3.             Tentara Keradjaan Buleleng pimpinan Radja Muda I Gusti Agung Njoman Karang menyerang Keradjaan Djembrana dan terjadi palagan di Desa Badjo Awen yang berujung gugurnya I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol bersama Punggawa Gede I Gusti Ngurah Gede, serta terjadi tindak brutal anarhistis dan genodisis terhadap keluarga pria Jero Pantjoran dan Jero Bengkel.

4.             Situasi kian kisruh karena Keradjaan Buleleng tidak mampu mengendalikan Keradjaan Djembrana. Rakyat mengangkat I Gusti Ngurah Putu Dorok selaku Punggawa Gede sambil menantikan Radja Djembrana IV dari pengungsian.

5.             Keradjaan Buleleng menandatangani pakta perdamaian dengan Keradjaan Djembrana. Radja Djembrana IV kembali memerintah Keradjaan Djembrana sejak tahun 1830 hingga mangkat pada tahun 1839.

6.             Radja Djembrana IV menetapkan adiknya, I Gusti Agung Njoman Madangan, sebagai Radja Muda Djembrana pada tahun 1828 menggantikan kedudukan Almarhum I Gusti Agung Ngurah Made Bengkol.

7.             Radja Djembrana IV membangun Istana Puri Agung Nagari di Negara (kelak dikenal sebagai Puri Agung Negara Djembrana), menyatakan kota Negara menjadi Ibukota, pusat pemerintahan, ekonomi, perniagaan, sosial budaya, pertahanan keamanan Keradjaan Djembrana sejak tahun 1830 yang semula berpusatkan di Puri Gede Djembrana.

8.             Radja Djembrana IV membangun Pura-Pura sebagai wujud pengejawantahan dharmaning adat dan agama demi keseimbangan kehidupan niskala–sekala melaksanakan sradha Agama Hindu di seputaran kota Negara yaitu :

 

a.          Pura Dalem di Desa Lelateng Negara pada tahun 1831.

b.         Pura Segara di Desa Pengambengan Negara pada tahun 1834.

c.          Pura Desa/Pura Puseh di Desa Banjar Tengah Negara pada tahun 1837.

 

9.             Kerusakan Taman Sari dampak pendudukan duo aliansi Keradjaan Tabanan dan Badung selama tahun 1809–1811 diperbaiki bertahap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar