Sejarah Kerajaan Jembrana era tahun 1705–1960
oleh A.A.Gde Agung B. Sutedja
(Penglingsir Puri Agung Negara Djembrana )
Cuplikan peristiwa penting peran Radja atas eksistensi pemerintahan dan teritorial Keradjaan Djembrana era tahun 1705–1960, kiprah Anak Agung Bagus Sutedja selaku pucuk pimpinan Bali selama tahun 1950–1966 dan peran Pengelingsir Djembrana Anak Agung Gde Agung sejak tahun 2002 terdeteksi sesuai catatan
fakta berikut :
1. RADJA DJEMBRANA I – IDE I GUSTI AGUNG NGURAH DJEMBRANA (1705)
a. I Gusti Ngurah Alit Takmung adalah putera Radja/Tjokorde Mengwi III Ide I Gusti Agung Njoman Alangkadjeng gelar Ide Tjokorde Njoman Munggu yang memerintah Keradjaan Mengwi sejak tahun 1682.
b. I Gusti Ngurah Alit Takmung mendirikan Keradjaan Djembrana dan menjadi Radja Djembrana I gelar Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana dalam tahun 1705 serta memerintah hingga tahun 1755.
c. Radja Djembrana I berputera kembar, I Gusti Agung Gde Agung dan I Gusti Agung Made Ngurah, yang keduanya mangkat muda usia.
d. I Gusti Agung Gde Agung menjabat Radja Muda Djembrana pada tahun 1722 dan mangkat tahun 1724 di Saren Taman sehingga disebut Radja Dewata Lebar ring Taman. Puteranya bernama I Gusti Agung Gde Djembrana kelak menjadi Radja Djembrana II pada tahun 1755.
e. I Gusti Agung Made Ngurah diangkat menjadi Wakil Radja Muda Djembrana tahun 1724 dan tikam diri satya wacana diatas batu tempat duduk hariannya disebut Radja Dewata Lebar Kesuduk ring Watu. Puteranya, I Gusti Agung Ngurah Putu Pasatan, mendapat nakti di Pura Pasatan dalam tahun 1745 dan menurunkan para Gusti Ngurah Jero Rai, Anyar, Anom, Oka Dangin Tukad, dan Taman, serta I Gede Putera seketurunan menetap di Pendem.
Kejadian penting era pemerintahan Radja Djembrana I tercatat sebagai berikut :
1. I Gusti Gede Andoel adalah putera I Gusti Ngurah Jasa keturunan Ngurah Anglurah Berangbang warih I Gusti Basangtamiang menetap di Jero Andul Desa Batuagung Djembrana memohon izin Radja/Tjokorde Mengwi III agar putera Beliau dialihkan ke Djembrana untuk mendirikan Keradjaan Djembrana dan menjadi Radja Djembrana.
2. Permohonan dikabulkan dan menetapkan putera Beliau dengan I Gusti Luh Takmung, puterinya I Gusti Poh Gading keturunan Anglurah Kaler Patjekan di Takmung Klungkung, bernama I Gusti Ngurah Alit Takmung, ke Djembrana, dengan dibekali sebilah Keris Padjenengan Sakti Tatasan, disertai I Gusti Kaler Takmung (paman dari pihak Ibu), diiringi ratusan pengiring, diantaranya bangsawan I Gusti Ngurah Kalia, wangsa Pasek, pasukan khusus dengan tugas tanggungjawab masing-masing, yaitu Purnadesa, Gegem, Ambengan, Tulup, Madangan, Tawasan, Tangkas, Panasan, dan Bendesa, namun tanpa kesertaan semeton Brahmana.
3. I Gusti Ngurah Alit Takmung mendirikan Keradjaan Djembrana serta menjadi Radja Djembrana I gelar Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana pada tahun 1705, membangun Puri Gede Djembrana sebagai istana dan pusat kendali pemerintahan, politik, ekonomi, sosial adat budaya, pertahanan keamanan dan ikutan, di Desa Dauhwaru Djembrana.
4. Radja Djembrana I Ide I Gusti Agung Ngurah Djembrana mangkat tahun 1755 dan disebut Bethara ring Saren Agung Djembrana dan digantikan cucu Beliau yang bernama I Gusti Agung Gde Djembrana
5. Tahun 1710 mendirikan Pura Tjandi Rawi di Banjar Anyar Djembrana untuk pusat upacara adat keagamaan. Komposisi bangunan Pelinggih Pura Tjandi Rawi terdiri dari Meru Tumpang Tiga untuk Bethara Siwa dan Gedong untuk Pelinggih Bethara Ibu. Fungsi Pura Tjandi Rawi sebagai Syiwa dengan prosesi ritual upacara adat keagamaan Panca Yadnya (Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya) dipimpin langsung oleh Radja Djembrana karena saat itu belum ada Bagawante. Pujawali Pura Tjandi Rawi pada Umanis Anggarkasih Wuku Julungwangi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar